AWAL > PENGETAHUAN > ETNOTIGROLOGI > FOLKLOR

 
 

FOLKLOR

 

Budaya berturur merupakan ciri khas yang menonjol di kalangan suku Jawa dan Sunda. Dua suku ini mempunyai populasi yang mendominasi  Pulau Jawa. Walaupun ada beberapa kelompok kecil yang lain seperti Badui, Kasepuhan (varian dari Suku Sunda); Tengger dan Osing (varian Suku Jawa).

Pada perkembangannya masuk juga suku Madura yang kemudian menetap dan menghuni di bagian Pulau Jawa sisi Timur. Untuk membedakan dengan Suku Madura yang menghuni Pulau Madura di Utara Pulau Jawa, maka penulis memberi istilah sendiri sebagai Suku Madura Urban. Pembedaan ini untuk memudahkan kajian dan memberikan persepsi khusus sebagai Suku Madura yang telah menetap di Pulau Jawa selama lebih dari seratusan tahun atau lebih dari 3 generasi.

Bertutur, merupakan aset perilaku kebudayaan yang erat kaitannya dalam melakukan transfer pengetahuan, pemahaman, etika dan seni yang dimiliki suatu generasi ke generasi berikutnya. Kebudayaan bertutur mempunyai sifat sangat elastis dan lentur, artinya dapat mengalami pengembangan maupun pengurangan makna dan isi tergantung dari subyek-subyek penuturnya antar generasi. Sifat elastis ini lebih banyak dipengaruhi dari ada tidaknya interaksi langsung subyek pelanjut isi tuturan terhadap alam disekelilingnya ataupun interaksi provesi; sehingga akan mengembang. Disamping itu juga bisa mengalami pengurangan isi tuturan jika subyek pelanjut kurang berinteraksi dengan alam.

Adapun khusus Folklor yang mempunyai kajian yang bersinggungan dengan harimau jawa Panthera tigris sondaica yang bersumber dari Suku Sunda, Suku Jawa dan Suku Madura Urban akan digolongkan oleh penulis menjadi bagian fariabel pengisi Etnotigrologi.

Sudut pandang yang digunakan dalam pengelompokan 3 suku di Jawa (Sunda, Jawa dan Madura Urban) ini lebih didasari atas kajian Biologi yang memang dimiliki oleh penulis. Sehingga seandainya berbeda dengan kajian Antropologi, sudut pandang dari penulis ini lebih sebagai 'pengkayaan' kasanah pengetahuan. Dalam Biologi dikenal beberapa istilah : Bio-Regent; Bio-Geogafi dan Barier Populasi. Walaupun untuk saat ini pembatas alam sudah hampir tidak berarti lagi, dengan tingginya mobilitas manusia yang ditunjang dengan sarana dan prasarana teknologi. Akan tetapi sejarah latar belakang penggunaan bahasa Ibu (Sunda-Jawa-Madura dan Betawi <?>) di Pulau Jawa dijadikan modal utama untuk membedakan asal sumber Folklor, walaupun terkadang ada persamaan makna dan isi yang dikandung di dalamnya.

Khusus untuk folklor harimau dari Betawi, menjadi bukti bahwa Ibukota Jakarta dahulunya (sebelum tahun 1800) merupakan hutan yang menjadi habitat harimau loreng jawa.

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

 
 
 
 

 

Peduli Karnivor Jawa
 
 
 

2