AWAL > PENGETAHUAN >  KEBUDAYAAN > Mantra Penjinak Macan

 
 

Mantra Penjinak Macan

 

Kajian “Etnotigrologi” sangat menyenangkan. Pelajaran tentang pengetahuan langsung dari narasumber yang membeberkan tentang hubungan dan ‘manfaat’ macan dan atau harimau.
 
Belajar sepanjang masa, memang kaidah yang sangat bagus. Setiap pengalaman dari penjelajahan hutan, selalu mendatangkan pengetahuan baru. Mengusik pikiran mencari kaidah ilmiah. Sehingga banyak kejadian langsung yang penulis jumpai di lapangan tidak langsung “parkir” di garasi ‘Klenik’. Memang kalau pikiran kita tidak terusik, maka kenyataan riil yang kita jumpai langsung dari perjalanan keluar masuk hutan, akan masuk ke garasi klenik. Jikalau sudah parkir di garasi klenik, tentu tidak akan mengungkap apapun selain menguapkan sebuah pengalaman yang sangat nyata.
 
Begitu juga dengan pengalaman bertemu penduduk di tengah hutan, yang telah menguasai ‘mantra’ penjinak macan. Sosok macan tutul liar penghuni hutan, seolah bagikan kucing rumah yang mudah di elus dan dibelai. Lembaran foto tentang diri Beliau saat memegang macan tutul jawa di tengah hutan sangatlah unik, dan mengusik tanya penulis.
 
Gelombang Non Elektro, sepertinya menjadi sebuah kunci jawaban. Memang butuh perangkat khusus untuk dapat menjabarkan perihal gelombang ini. Sinyal-sinyal gelombang ter-fibrasikan melalui ‘media’ untuk sampai ke ‘indra’ macan tutul, sehingga menjadi bersahabat. Saling percaya dengan landasan ketulusan menjadikan manusia mampu bersahabat dengan satwa liar yang dianggap ‘buas dan galak’.
 
 
Pemanfaatan ‘mantra’ penjinak macan/harimau ini tidak disalah gunakan untuk ‘membantai’ spesies yang sudah langka ini. Akan tetapi digunakan untuk menjaga areal pertanian di sekitar hutan apabila ada orang yang akan mengganggu tanamannya. Sebab pada umumnya manusia yang tidak terbiasa berinteraksi dengan macan, pasti akan ketakutan. Karena takut, maka keinginan untuk merusak tanaman pasti diurungkan. Sosok macan liar (hewan) ini hanya digunakan untuk mengusir saja, tidak sampai melukai manusia.
 
Masih membutuhkan interaksi yang lebih dalam untuk membongkar sebuah “mantra” penjinak macan.

 

 

 
 
 
 
 
 

 
 
 
 

 

Peduli Karnivor Jawa
 
 
 

2