AWAL > PENELITIAN > Jawa Barat > Investigasi & Advokasi Karnivor Besar di Bukit Pembarisan

 
 

Investigasi & Advokasi Karnivor Besar di Bukit Pembarisan

 

Investigasi awal selama sekitar dua bulan hanya berfokus pada pembuktian harimau jawa (Panthera sondaica javanica) dan baru mendapatkan foto macan tutul (Panthera pardus melas), babi hutan (Sus scova), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan musang (Paradoxurus hermaphroditus) maka saya memberanikan diri menyusun hasilnya sebagai sebuah buku bertajuk "Selayang Pandang Keanekaragaman Plasmanutfah Bukit Pembarisan" (SPKPBP). Sebab ada banyak jenis flora fauna yang telah berhasil kami data.

Foto: Selayang Pandang Keanekaragaman Plasmanutfah Bukit Pembariran

Plasmanutfah memiliki nilai potensi yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat sekitar habitat karnivor besar. Pengamatan cepat yang kami lakukan terhadap plasmanutfah lebih sebagai ‘efek samping’ saat kami melakukan pencarian dan pelacakan bekas aktivitas karnivor besar yang diinformasikan masyarakat sekitar.

Hal yang jarang dipikirkan para peneliti hidupan liar yang melakukan kajian ilmiah di suatu kawasan adalah pengaruh dampak risetnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dalam jangka panjangnya. Sebagian besar peneliti hidupan liar, jika kajian mereka sudah didapat, maka mereka akan meninggalkan begitu saja lokasi yang telah berhasil menjadikannya sebagai Sarjana, Master ataupun Doktor. Dan masyarakat tempatan tetap dengan keadaan seperti sediakala. Sekali lagi masyarakat tempatan hanya akan selalu menjadi pemandu lapang ataupun porter. Dampak yang dirasakan masyarakat sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada. Oleh karena itu saya menggagas perlu adanya "REWARD" kepada masyarakat tepi kawasan hutan dengan kearifan yang telah mengakar dalam budaya mereka, maka berbagai hidupan liar komponen plasma nutfah tersebut masih tetap ada sampai sekarang. Sampai para peneliti mendatangi.

Untuk itulah maka buku SPKPBP ini kami terbitkan, sebagai bentuk Advokasi. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi Pemda dan jajarannya agar berperan nyata untuk mensejahterakan Masyarakat Bukit Pembarisan khususnya dan Kuningan pada Umumnya. Buku yang kami cetak terbatas ini pernah kami hadiahkan ke Wakil Bupati Kuningan pada Workshop “Identifikasi & Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Kabupaten Kuningan” 8 Desember 2009.

Foto: Workshop Identifikasi & Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Kab. Kuningan

Saya yakin masih banyak lagi informasi pemanfaatan yang sudah dilakukan warga sekitar hutan sepanjang Bukit Pembarisan. Untuk itu maka perlu dilakukan penggalian informasi lebih mendalam dan lebih luas. Sehingga kita semakin menyadari bahwa plasmanutfah tersebut benar-benar sebagai HARTA dan MODAL bagi manusia untuk hidup dan menjalankan kehidupannya dari TUHAN SEMESTA ALAM YANG MAHA KAYA.

Oleh karena itu kita harus bersifat AMANAH dalam mengelola dan memanfaatkannya, sebab masih ada manusia lain yaitu generasi yang akan datang yang gantian harus mendapat jatah untuk mengunakan plasmanutfah tersebut. Jangan sampai karena kesembronoan kita saat ini sebagai pengelolanya, maka generasi yang akan datang telah kehilangan kesempatan untuk menggunakan dan memanfaatkannya.

Kekayaan plasmanutfah tersebut penulis tonjolkan sebagai kajian utama karena ada permasalahan penting yang sepertinya terabaikan. Permasalahan itu adalah informasi tentang akan ditebangnya hutan produksi terbatas di sekitar Gunung Rabuk oleh Perhutani. Padahal penulis memperoleh foto macan tutul di kawasan ini. Kecemasan tersebut penulis tindak lanjuti dengan membuat surat pemberitahuan ke KKH, dengan dikirim langsung ke Manggala Wana Bakti di Jakarta 24 Agustus 2009, dan ke BPLHD Jawa Barat 1 September 2009. Namun kedua surat tersebut tidak pernah mendapatkan respon/surat balasan (sampai diterbitkan di web ini).

Foto: Panthera pardus melas terpotret kamera trap Trail Master TR500

Harapan penulis semoga perlindungan habitat macan tutul di tanah Jawa ini mendapat perhatian. Dimana di habitat macan tutul tersebut (terutama di Bukit Pembarisan) masih memiliki kekayaan plasmanutfah yang melimpah tetapi ‘masih terpendam’ belum digali secara maksimal. Hendaknya gambaran potensi yang penulis sampaikan di buku SPKPBP dapat menggugah para pihak pengambil kebijakan publik untuk serius berpikir mencari solusi yang tepat, baik, benar dan bijaksana.

Akhirnya penulis hanya menyampaikan sebuah ucapan:
SALAM LESTARI.
 
 
Cirebon,
akhir Desember 2009
 

 

 

 
 
 
 
 
 

 
 
 
 

 

Peduli Karnivor Jawa
 
 
 

2