AWAL > MANAJEMEN HABITAT > KONSEP PIKIR > STRATEGI Pemantauan Sebaran Macan Tutul di Pulau Jawa

 
 

STRATEGI Pemantauan Sebaran Macan Tutul di Pulau Jawa

Oleh:

Peduli Karnivor Jawa
Macan tutul merupakan satu-satunya carnivor besar keluarga kucing yang di Indonesia hanya terdapat di Pulau Jawa, oleh karena itu nilai konservasinya sangatlah tinggi. Eksistensi satwa ini sangat terancam populasinya akibat proses insularisasi habitat, terutama pasca euforia Reformasi 1999 dimana banyak hutan yang dijarah massa. Walaupun begitu belum banyak catatan mengenai ‘meta populasi’ dan sebaran habitatnya disepanjang Pulau Jawa.
Latar Belakang
Masyarakat sekitar hutan yang menjadi habitat macan tutul masih sering melaporkan tentang terjadinya perjumpaan maupun gangguan terhadap ternak mereka. Beberapa penuturan masyarakat dihimpun dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti dari G. Lawu, G. Wilis, G. Arjuno, G. Argopuro, G. Kawi, G. Raung, G. Panataran, G. Ijen, TN. Alas Purwo, TN. Baluran dan TN. Meru Betiri; sedangkan di Jawa Tengah meliputi Gunungkidul, Pegunungan Menoreh, G. Merapi, G. Merbabu, Pegunungan Kendeng Utara, G. Muria, G. Ungaran, Pegunungan Dieng, Nusakambangan dan G. Slamet. Sedikit lokasi di Jawa Barat adalah G. Sawal dan Daerah Garut Selatan.
Masyarakat dalam konfirmasinya masih dapat dengan jelas membedakan antara Macan tutul dan kucing hutan. Mereka mengenali kucing besar dengan nama Tutul, Kumbang, Kembang dan Dhawuk. Penyebutan tersebut berkaitan dengan perbedaan morfologi pola noktah hitam yang mendominasi dan tingkat kepudaran noktah karena individu yang telah tua.
Kelompok masyarakat lain yang masih sering menyampaikan keberadaan Macan tutul adalah kalangan penggiat olah raga berburu dan pemanen hasil hutan. Bahkan laporan-laporan tersebut menyatakan keberadaan Macan tutul diluar kawasan konservasi yang dianggap sebagai habitat resminya.
Dengan mengkaji perkembangan beberapa temuan terakhir di Jawa Timur dan Jawa Tengah, semakin memperkuat asumsi bahwa konflik dimensi keruangan antara habitat Macan tutul dengan manusia semakin meningkat. Maka dari pada itu untuk selanjutnya perlu dikaji permasalahan yang mendukung terjadinya percepatan insularisasi habitat spesies ini dan solusi penyelesaiannya secara bijak.
Adapun permasalahan yang lain adalah kurangnya kajian manajemen habitat yang lebih serius akibat kurangnya komunikasi antar pengamat macan tutul. Sehingga jaringan informasi diantara para pihak yang terkait untuk membangun kepentingan bersama guna pengelolaan Macan tutul dan habitatnya sangatlah perlu digiatkan.
Melihat kenyataan yang ada maka perlu disusun suatu rencana guna meningkatkan upaya penyelamatan Macan tutul dan habitatnya. Bahkan pada kondisi ideal, masyarakat lokal adalah pemeran utama dalam upaya pelestarian dan penyelamatan ini. Hal ini bisa tercapai jika masyarakat mempunyai tingkat pemahaman, kepedulian dan kemampuan yang cukup dalam upaya pelestarian dan penyelamatan Macan tutul.
Kondisi Umum
Aktifitas pengkajian untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam perlindungan habitat dan spesies Macan tutul sampai saat ini kurang berkembang dikarenakan kepedulian yang masih lemah terlebih belum adanya jejaring informasi yang melembaga. Padahal data dan informasi mulai terhimpun namun masih terpisah-pisah. Oleh karena itu kerjasama harus mulai dibangun, kepedulian masyarakat harus mulai ditingkatkan. Namun semua itu belum optimal karena berbagai keterbatasan yang ada.
Data ilmiah maupun semi ilmiah yang dihimpun dari beberapa riset yang dilakukan Peduli Karnivor Jawa menunjukkan sebaran habitat yang hampir merata di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lewat temuan berupa jejak, feses, cakaran dan identifikasi habitat, keberadaan spesies ini mulai dari kawasan TN Alas Purwo di bagian paling timur Jawa hingga G. Slamet di Jateng bagian barat. Bahkan beberapa temuan dijumpai pada kawasan non-konservasi. Namun kondisi antar habitat sebagai lokasi kehidupan populasi macan tutul telah terfragmentasi dengan sangat hebat. Terutama di Jawa Tengah dan DI Jogjakarta. Kegiatan pemantauan tersebut selain mengumpulkan data terukur (parametrik) juga mengumpulkan informasi masyarakat di lokasi target. Masyarakat setempat bahkan terkadang mempunyai ikatan batin yang lebih kuat dengan spesies ini dibandingkan pihak pengelola kawasan.
Keadaan yang paling menarik justru Macan tutul berada di luar kawasan konservasi yang digarap sebagai kawasan hutan produksi maupun di perkebunan, karena potensial konfik dengan manusia sangat besar dan justifikasi hukuman mati bagi macan tutul sudah jelas tergambar. Beberapa informasi terbaru menyatakan bahkan Macan tutul ada di Jawa Tengah bagian Utara, Pegunungan Kendeng Tengah dan DI Jogjakarta sisi Selatan dan Barat. Namun saat satwa ini tersesat di perkampungan akibat pencarian habitat baru oleh spesies muda, maka kematian jelas terjadi.
Penelitian dan pengembangan kegiatan selama ini belum dilakukan secara lengkap, komprehensif dan terpadu. Penelitan dan pengembangan baru dilakukan oleh individu (biasanya mahasiswa skripsi) atau kelompok yang akhirnya berhenti karena pendanaan dan keterbatasan pengetahuan masing-masing komponen yang terkait.
Peran serta, pengetahuan, kepedulian dan komunikasi masyarakat meskipun sudah terbangun tetapi masih belum memadai untuk disebut cukup. Pecinta Alam dan Pemerhati Lingkungan yang mempunyai kesempatan untuk melakukan monitoring masih belum mempunyai pengetahuan yang cukup untuk memperoleh data dan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Masyarakat lokal yang mempunyai lebih banyak data dan informasi karena tingginya interaksi dengan kawasan masih belum mendapat tempat di kalangan ilmiah dan pengambil kebijakan. Lembaga ilmiah dan lembaga konservasi meskipun mempunyai kemampuan dan kredibelitas yang tinggi namun kurang mempunyai data dan informasi yang aktual, sementara pengambil kebijakan seringkali terpaku pada data dan informasi yang bersifat top-down dan kurang memiliki kemampuan serta kreatifitas dan inovasi untuk mengembangkan data dan informasi. Akibatnya manajemen hidupan macan tutul tak pernah terwujud.
 
Oleh karena itu diperlukan suatu usaha pemantauan keberadaan Macan tutul di banyak kawasan dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah, terprogram, terencana berkelanjutan dan terpadu. Pendekatan secara ilmiah ini diharapkan mampu menjadikan informasi dari masyarakat awam dapat dipertanggungjawabkan secara logis. Untuk itu diperlukan berbagai pihak dengan berbagai latar belakang keahlian guna menjembatani kesenjangan pengumpulan data sebaran habitat Macan tutul tersebut. Dimana tujuan akhir yang ingin dicapai adalah pola pengelolaan spesies yang ideal.
Gambaran Kedepan
Melihat sebaran potensi penggiat alam bebas dan hidupan liar, maka sangat memungkinkan bagi terwujudnya Masyarakat Penyelamat Spesies dan Habitat Macan tutul. Dimana masyarakat tersebut mempunyai kepedulian, kemauan dan kemampuan sehingga dapat mengelola habitat dan spesies Macan tutul secara lestari.
 
Tentunya dengan adanya wadah yang berfungsi sebagai pusat informasi mutlak diperlukan untuk arus informasi dan transformasi pengetahuan. Selain itu juga dibutuhkan suatu lokasi ‘prototipe’ bagi pola manajemen hidupan liar macan tutul yang dapat menggambarkan dan mewakili kondisi bentang lahan Pulau Jawa.
Misi Masyarakat Penyelamat Spesies dan Habitat Macan tutul
1. Memantau keberadaan Macan tutul diseluruh Pulau Jawa dengan melibatkan semua lapisan masyarakat.
2. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam penyampaian berita tentang pertemuan dengan Macan tutul.
3. Meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang habitat dan spesies Macan tutul.
4. Membangun pusat jaringan informasi dan data mengenai keberadaan Macan tutul se-pulau Jawa.
5. Membentuk Pusat Study Macan tutul.
 
Hasil Yang Diharapkan
     1. Keberadaan sebaran habitat dan poplasi Macan tutul dapat terpetakan kembali.
     2. Masyarakat mampu berperan aktif dalam pemantauan keberadaan Macan tutul.
3. Masyarakat mempunyai keahlian dalam segi penyampaian informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis.
     4. Terbentuknya pusat jaringan informasi data mengenai Macan tutul.
     5. Terbentuknya Pusat Study Macan tutul.
 
NILAI PENTING KEDEPAN
Perlunya Manajemen Habitat dan Spesies Macan Tutul se Jawa dengan menghilangkan sekat ego sektoral dan kawasan administrasi.
Demikian Sumbang Saran Pemikiran kami dalam Acara:
Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Macan Tutul Jawa
Semoga bermanfaat.
 
Salam Lestari
Didik Raharyono, S.Si.
Peduli Karnivor Jawa
 
Disampaikan dalam acara Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Macan Tutul Jawa di Hotel Safari TSI Bogor 18-19 Mei 2009.
 

 

 
 
 
 
 
 

 
 
 
 

 

Peduli Karnivor Jawa
 
 
 

2