Kulit Harimau jawa Panthera sondaica javanica 2013 (tidak) Penting

 
Satwa karismatik endemik Pulau Jawa ini eksistensinya selalu ‘menghantui’ konservasionis. Keberadaan harimau jawa di abad 21 adalah sebuah keniscahyaan bagi ahli-ahli konservasi harimau dunia. Entah mengapa laporan perjumpaan dan pembunuhan harimau jawa selalu dinisbikan. Usaha pembuktian bekas aktifitas hingga analisis rambut yang ditemukan seolah hanya isapan jempol.

Sekarang PKJ menjumpai serpihan kulit harimau jawa yang “terbunuh” tahun 2013 & sisa kuku kaki harimau jawa yang “terbunuh” tahun 2007. Lantas, setelah temuan serpihan kulit yang baru -sempat mengering darahnya, akan membuat kita tergopoh gopoh mengakui eksistensi harimau jawa? (tidak semudah itu!). “Tidak Penting” dimana lokasi-lokasi asal harimau jawa itu “terbunuh” disebutkan, karena justru yang TERPENTING adalah bagaimana kita MELINDUNGI HUTAN TERSISA DI JAWA yang masih menjadi habitatnya.

 

Gambar 1. Kulit Harimau Jawa Panthera sondaica javanica Terbunuh 2013. Inzet: kulit ekor harimau jawa, warna kuning emas dengan pola coretan garis hitam sempit (lebar + 5 mm).

Harimau jawa memang menjadi simbul penjaga hutan Jawa. Lantas kalau harimau jawa punah, berarti hutan jawa sudah tidak mempunyai penjaga? Dengan tidak adanya penjaga hutan tersisa di Jawa lantas kita semena-mena terhadap hutan? Padahal sejarah mencatat: banyak resi-resi jaman dulu yang memiliki padepokan di dalam hutan belantara; bahkan di pewayangan tokoh-tokoh saktinya memiliki padepokan di dalam hutan; serta untuk memerdekakan Negara ini, para pejuangnya bergerilya dengan menjadikan hutan sebagai basis persembunyiannya. Kenapa saat ini setelah ‘penjaga hutan jawa’ dianggap punah, lalu hutan di Jawa dijadikan “bancakan” untuk dialihfungsikan?

Gambar 2. Kuku Kaki Harimau Jawa Panthera sondaica javanica Terbunuh 2007.

Untuk itu, sebuah temuan kulit harimau jawa yang “terbunuh” di tahun ini (2013), tentunya juga sudah bukan menjadi hal yang penting lagi. Dikarenakan naluri manusia Jawa untuk menghormati hutan sebagai bagian dari alam yang harus dijaga sudah ‘m e m u d a r’. Temuan ini hanya ‘sedikit’ mambahagiakan kami sebagai pemerhati hidupan liar Jawa, ditengah pusaran badai kepunahan satwa penjaga hutan jawa.

Kalaupun kami akan melangkah lebih jauh terhadap sebuah ‘kebutuhan’ ilmu pengetahuan, itu hanyalah sekedar hobi kami yang memang telah menjadikan pilihan ‘peneliti’ sebagai profesi di KTP.