AWAL > ARTIKEL > Macan Tutul Jawa Penjaga Padi Bunting

 
 

Macan Tutul Jawa Penjaga Padi Bunting

 

Panen padi. Peranan Macan tutul jawa setelah menjaga padi bunting.
 
Bohohor merupakan bekas perkampungan yang telah ditinggalkan dan tidak boleh dijadikan tempat tinggal sejak tahun 1922, tutur Pak Usman –petani penggarap sawah yang rajin bertani padi di kawasan ini. Alasan yang diketahui Beliau dari Ayahnya adalah karena dilarang oleh Belanda sebab kawasan tersebut dinyatakan mudah longsor. Selain Pak Usman ada juga beberapa warga yang masih mewarisi sawah di areal paling ujung yang berbatasan dengan hutan lindung (hutan alam) Pembarisan.
 
Sejak Juni 2009~Juni 2011, PKJ melakukan pemantauan keberadaan maung di hutan lindung dan hutan pinus bersama warga masyarakat desa Citapen. Ternyata kawasan hutan ini merupakan kawasan yang berada di dalam pengelolaan Perhutani Kuningan Jawa Barat. Luas daerah pemantauan sekitar 10 km2 dan berada pada sisi Barat dari bentang lahan Perbukitan Pembarisan yang membentang di pojok Kabupaten Kuningan~Brebes~Cilacap~Ciamis dan merupakan perbatasan Jawa Barat ~ Jawa Tengah.
Peta Lokasi Pukit Pembarisan
 
Untuk mencapai lokasi Bohohor, kita harus berjalan sejauh 3 km dari Desa Citapen (jika jalan mendaki melewati Gunung Rabuk); tetapi akan membutuhkan jarak tempuh 5 km jika melewati jalur datar mengelilingi kaki Gn Rabuk). Setiap hari para petani yang bekerja di kawasan Bohohor rela berjalan pulang pergi guna menyambung kehidupannya.
 
Hal unik yang ditemui PKJ adalah hubungan yang sangat mengesankan dari para petani tepi hutan ini dengan macan tutul jawa. Bagaimana mungkin mereka mampu berhubungan dengan satwa yang terkenal sebagai binatang buas ini? Maka jawabnya : “Tak kenal maka tak sayang”.
 
Setelah PKJ ditunjukkan lokasi-lokasi perlintasan macan tutul oleh Pak Usman dan Pak Toni, maka saat mendekati pukul 16.00 WIB, beliau berdua menyalakan kayu kering berukuran sepaha sebanyak dua batang sepanjang hampir tiga meter. Setelah perapian menyala dan menjadi bara, dengan tergesa mereka bergegas mengajak pulang ke desa.
Perapian & bara. Penghangat maung penjaga padi.
 
Waktu hampir menjelang senja ketika PKJ sampai di desa Citapen. Dengan penasaran penulis bertanya tentang kenapa ditinggalkan bara perapian di dekat huma di sawah Bohohor, dan kenapa segera pulang setelah sore menjelang senja? Pak Usman menjelaskan bahwa sekarang waktunya padi mulai mengisi; jadi kalau menjelang senja sebelum ditinggal pulang ke desa warga sudah terbiasa untuk menyediakan bara api. Pengetahuan ini merupakan tinggalan dari para leluhur. Alasannya, jika bulir padi mulai bunting sampai isi, pasti akan banyak babi hutan yang memakannya, karena posisi sawah dikelilingi hutan. Oleh para leluhur dahulu, hutan disekitar Bahohor telah diketahui sebagai lokasi hunian maung tutul ataupun maung hideung. Untuk itu jika disediakan bara perapian, maka maung pasti akan mendekat ataupun mampir. Karena maung suka berlama-lama dikehangatan bara yang disediakan, maka dengan kedatangan maung di dekat sawah, menyebabkan babi hutan tidak berani mendekat ataupun memakan padi bunting.

Jejak kaki maung dijumpai di pematang sawah

Keesokan harinya, saat penulis ikut kembali mengunjungi Bohohor, ditunjukkan Pak Usman jejak maung dan kotoran nya, sebagai bukti kehadiranya dalam menjaga sawah dari serangan babi hutan, karena hanya dengan menyediakan bara api saja.

Suasana pesawahan Bohohor yang dikelilingi hutan

 

 
 
 
 
 
 

 
 
 
 

 

Peduli Karnivor Jawa
 
 
 

2